Rabu, 15 Februari 2012

ICE BOY

Diposting oleh mahassoulover di 13.53
ICE BOY Part 1
“1...2...3...,”aku membuka mataku pelan-pelan.
                Aku menatap sekelilingku kemudian menghembuskan nafas. Aku berdiri dari dudukku.
                “Ka, kamu mau pulang kapan?”tanya Syifa.
                “Em, aku pulang sendiri aja ya,”kataku lesu. Aku berjalan ke arah halte bus. Tanpa sadar aku menabrak seorang cowok.
                “Ati-ati  donk!”bentaknya.
                “Maaf, permisi,”kataku tanpa melihatnya.
                “Berhenti!”katanya saat aku belum terlalu jauh.
                Aku berhenti dengan masih menundukkan kepala. Kemudian aku menengok ke arahnya di belakangku.
                “Ya Allah!”aku tersontak kaget ketika aku melihat beberapa gelas es capucino atau apapun itu sudah jatuh berserakan di tanah.
                Aku melihatnya dengan menutup mulutku yang masih menganga karena saking kagetnya.
                Dia menatapku tajam. Dia terlihat biasa saja padaku. Tapi, aku sulit untuk mengartikan tatapannya untuk selanjutnya aku harus melakukan apa.
                “Aduh, maaf, biar saya ganti mas, eh kak...”kataku gelagapan.
                “Nggak usah.”katanya datar.
                “nggak papa, atau saya beliin lagi mau?”tanyaku
                “Nggak usah,”katanya sambil berjongkok memsukkan gelas-gelas ke tas kresek.
                “Udah, biar saya beliin, kakak tunggu dulu sebentar...”kataku
    “Nggak usah, gue bilang nggak usah. Lo nggak denger?!”tanyanya membentakku.
                Sekali lagi aku tersontak kaget dan sekaligus kesel. Udah minta maaf, mau dibantuin nggak mau. “Ya biasa aja donk!”gumamku.
                “Gue udah biasa ya, lo aja yang maksa gue. Gue udah bilang nggak usah, lo masih aja ngeyel,” katanya sambil menatapku lekat-lekat.
                 Aduh, dia denger lagi aku barusan gumamin apa.
                “Rain!”panggil sebuah suara cowok.
                Cowok itu menghampiri kami.
                Aku mendekatinya berusaha membantunya membereskan gelas-gelas plastik itu.
                “Rain, ayo pergi sekarang, udah ditunggu sama yang lain,”ajak cowok itu.
                “Lo jangan sekali-kali lagi muncul di hadapan gue,”katanya sebelum pergi meninggalkanku sendirian.
                Kemudian dia dan cowok itu pergi meninggalkanku.
                “Perasaan aku nggak bikin kesalahan separah itu deh, kok dia sampai segitunya sih? Dasar aneh,” gumamku sendirian.
                Di sisi lain...
                “Lo kenapa Rain? Lo kelihatan pucet?!”kata Sandi, cowok berambut hitam ikal.
                “Kelihatan?”tanya Rain.
                “Yah...lo  nggak lupa kan, gue bisa lihat kalau lo lagi nggak beres,”katanya.
“Emang iya?aku ngrasa kalau kamu baik-baik aja kok,”kata Fita. “Upps, sorry, aku kan nggak bisa lihat yang sebenernya,”kat Fita sambil tertawa kecil.
                “Gue tadi habis tabrakan sama cewek, nggak tau kenapa tiap dia deketin gue, gue ngrasa tubuh gue lemes tiba-tiba,”kata Rain.
                “Jangan-jangan...”kata Virgo terputus.
                “Kenapa Vir?”tanya Fita.
                “Nggak, gue yakin ini Cuma kebetulan aja,”kata Rain kemudian minum segelas air putih.
                Sandi menedekati Rain. “Gue  harap bukan dia orangnya,”bisik Sandi kemudian tersenyum.

                “Bun, bunda!”panggilku saat tante Gina berkunjung ke rumahku.
                “Iya, iya , ini Bunda juga udah selesai,”kata Bunda.
                “dandan aja lama banget sih,”gumamku.
                “Bunda pergi dulu ya,”kata Bunda.
                “Mau kemana sih?”tanyaku sambil mencamut kentang goreng.
                “Arisan donk, Oh ya, nanti kalau Ayahmu pulang, bikinin teh, terus bilang aja kalau Bunda lagi arisan.”kata Bunda.
                “Ayah mau ke rumah Bun?”tanyaku kegirangan.
                “Katanya sih begitu. Dia mau kesini sama Prisilla.”jawab Bunda sambil tersenyum. Menurutku itu bukan senyuman yang tulus darinya.
                “Calon istrinya Ayah?”tanyaku berusah menutupi kegelisahanku.
                “Yah...mungkin,”kata Bunda pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.
                Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan nenekku. Dia masih saja menganggap kalau Ayah harus punya anak laki-laki. Nenekku menyuruh ayahku untuk menikahi gadis lain untuk mendapatkan keturunan laki-laki. Karena, anak laki-laki dianggap sebagai pembawa keberuntungan. Tentu saja sebagai generasi penerus yang bisa diandalkan.  Ini sudah seperti menjadi sebuah tradisi yang sudah mengakar.

Keesokan harinya seperti biasa, aku berangkat ke sekolah naik bus. Aku sengaja untuk datang  siang. Ah, kuliah membuatku makin merasa kalau hidup itu selalu saja ada masalah. Dari dimarahi dosen gara-gara lupa ngerjain tugas, berantem sama temen yang nyebelin, marahan sama sahabat, sampai ketamu cowok yang nyuruh aku buat nggak nampakin diri lagi di depan dia. Baru aja kemarin berantem sama Dilla, sahabatku. Hari ini kira-kira apa lagi ya?
“Semoga hari ini jadi hari yang baik buat aku!”gumamku.
“Jangan banyak berharap. Setiap orang yang hidup akan selalu punya masalah,”kata seorang cewek yang duduk di dekatku.
Aku hanya memendanginya kemudian tersenyum. “Naik bus juga?”tanyaku.
“Bukan. Cuma lagi nunggu temen,”jawabnya sambil tersenyum padaku.
Entah kenapa menurutku dia terlihat sangat cantik. Dia begitu terlihat cerah dan sangat indah. Wajahnya seperti menyorotkan sebuah sinar.
“Itu dia, aku pergi dulu ya,”katanya berpamitan. Dia langsung membonceng seorang cowok yang mengendarai motor gede. “Rain, kamu nggak papa?”tanyanya
“Rain,”gumamku pelan. Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu.
Cowok yang mengenakan helm itu menoleh padaku . Tapi, aku tidak bisa melihat wajah dibalik helm itu.
“Rain, badan kamu  kok dingin banget sih?”tanyanya. “Sakit?”tanyanya.
“Nggak, aku  nggak papa,”katanya pelan.
Kemudian suara motor menderu meninggalkanku yang masih menunggu bus.

Aku duduk sendiri.  Syifa tidak di kelas yang sama denganku siang ini.
“Siang ini, ada murid baru ya?”tanya Miss Yeni, dosen sastra inggris.
“Murid baru, Miss?”tanya Rangga
“Iya, saya dengar dari Pak Julian,”kata miss Yeni.
“Nggak ada Miss. Salah mungkin, bukan di kelas ini,”kata Dewa.
“Hem, it’s okay. Okay, so, let’s begin the class now!”ajak Miss Yeni.
“Permisi, ini kelas sastra inggris 1?”tanya seorang cowok.
Semua menoleh ke arah pintu, termasuk aku. Eh, bukannya itu Rain? Ya ampun kalau dia lihat aku, bisa jadi kacau nggak ya nih kelas?
“Oh, kamu anak baru itu?”tanya Miss Yeni.
“Ya, boleh saya masuk, Miss?”tanyanya
Aku segera menunduk sambil memenuhi tempat dudukku dengan barang-barangku, mengingat hanya satu tempat duduk ynag tersisa.
“Yes, of course,”jawab Miss Yeni.
Dia melangkahkan kakinya memasuki pintu dan dia berhenti sesaat. “Miss, sepertinya nggak ada tempat duduk yang tersisa,”kata Rain sambil melihat sekeliling kelas.
“Seharusnya sih ada, nah Kara!”panggil Miss Yeni.
Aku masih menunduk. Aduh, Miss Yeni hafal banget sih, kalau muridnya nggak ada satu.
“Kara!”panggil Fiona. “Dipanggil Miss Yeni.”
“Usst!”sergahku.
“Kara, kamu tidur?”tanya Miss Yeni setengah berteriak.
Aku masih diam saja sambil menunduk terus.
“Kara!”panggil seisi kelas yang mengagagetkanku.
“Eh, iya!”jawabku dan tidak sadar aku mendongak terkejut.
“Siapa nama kamu?”tanya Miss Yeni menengok ke arah Rain.
“Rain,”jawabnya.
“Wah, nama yang keren. Dipanggil Akang Rain boleh atuh?”tanya Cici, mahasiswa asal Bandung.
Seisi kelas tertawa, tapi tidak denganku, wajahku pasti sudah jelek sekali sekarang, pucat, takut.
                “Rain, kamu bisa duduk di dekat Kara untuk siang ini.”kata Miss Yeni.
                Rain memandangiku lekat-lekat. Seperti kemarin, aku tidak mengerti arti pendangan itu. Tapi, pandangan itu terasa sangat mengintimidasiku.
                “Makasih, Miss,”kata Rain kemudian berjalan ke arahku dan akhirnya duduk di sebelahku.
                Aku merasa tidak nyaman saja di dekatnya. Aku sebenarnya masih merasa bersalah atas kejadian kemarin.  Aduh, kenapa aku harus ada si situasi seperti ini sih?
                Aku menengok sebentar ke arahnya. Dia terlihat memegangi dadanya dan keringatnya terlihat cukup banyak, seperti habis olahraga.
                “Kamu sakit?”tanyaku pelan.
                “Nggak, gue udah biasa kayak begini,”jawabnya.
                “Oh, ak punya tissue, mau?”tawarku.
                “Nggak perlu. Lo cukup nganggep gue nggak ada,”katanya datar.
                Akhirnya aku mengurungkan niatku memberinya tissue dan kembali memperhatikan Miss Yeni.
                “Ehm, tapi kok nama kamu aneh banget sih? Rain?”tanyaku penasaran.
                “Masa’?”tanyanya tapi dengan suara datar.
                “Nggak!”jawabku datar , aku kesal dengan dia yang sama sekali sepertinya tidak ingin aku bicara.
                “Nama lo siapa?”tanyanya.
                “Emangnya penting?”tanyaku kesal.
                “Nggak juga, Cuma sopan santun,”jawabnya.
                “Emangnya kamu pikir aku seneng kamu duduk di dekatku?”tanyaku tanpa perlu jawaban darinya.
                Dia hanya diam kemudian menoleh padaku. “Serius?”tanyanya.
                Aku mengangguk yakin.
                Kemudian dia berdiri mengambil tasnya.
                “Eiits, aku Cuma bercanda,”kataku sambil menarik tangannya. Tapi aku segera melepaskannya, tangannya dingin banget, bahkan melebihi dinginnya air di pegunungan.
                “Abis aku kesel, kamu bertindak seolah-olah aku punya banyak salah sam kamu,”kataku.
                “Kamu nggak salah apa-apa, aku yang belum bisa ngendaliin diriku,”katanya pelan kemudian pergi berpamitan dengan Miss Yeni.
                Apa sih maksudnya? Tapi, badan sedingin itu dia bisa bilang kalau dia baik-baik saja. Ahh, Kara sudahlah!!

0 komentar:

Posting Komentar

 

Jendela Drama Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea